Prilaku Individual dan Kelompok Dalam Organisasi

Kemampuan berarti kapasitas seorang individu untuk melakukan beragam tugas dalam suatu pekerjaan. Kemampuan adalah sebuah penilaian terkini atas apa yang dilakukan seseorang. Kemampuan keseluruhan seorang individu pada dasarnya terdiri atas dua kelompok factor yaitu intelektual dan fisik.

Kemampuan intelektual adalah kemampuan yang dibutuhkan untuk melakukan berbagai aktivitas mental berpikir, menalar, dan memecahkan masalah. Individu dalam sebagian besar masyarakat menempatkan kecerdasan dan alasan yang tepat pada nilai yang tinggi. Individu yang cerdas biasanya mendapatkan lebih banyak uang dan tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Individu yang cerdas juga lebih memungkinkan menjadi pemimpin dalam suatu kelompok.

Kemampuan fisik merupakan kemampuan melakukan tugas-tugas yang menuntut stamina, keterampilan, kekuatan, dan karakteristik serupa. Kemampuan fisik tertentu bermakna pentik bagi keberhasilan pekerjaan yang kurang membutuhkan keterampilan dan lebih terstandar.

Telah diidentifikasi sembilan kemampuan dasar yang tercakup dalam kinerja dari tugas-tugas fisik. Kesembilan kemampuan dasar tersebut adalah

  1. Kekuatan dinamis
  2. Kekuatan tubuh
  3. Kekuatan statis
  4. Kekuatan eksplosif
  5. Fleksibilitas luas
  6. Fleksibilitas dinamis
  7. Koordinasi tubuh
  8. Keseimbangan
  9. Stamina

Pekerjaan menuntut hal yang berbeda-beda dari setiap individu dan setiap individu memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Dengan demikian kinerja karyawan akan meningkat bila terdapat keseuaian kemampuan pekerjaan yang tinggi. Kemampuan intelektual dan fisik tertentu yang dibutuhkan untuk melakukan pekerjaan dengan memadai bergantung pada persyaratan kemampuan dari pekerjaan tersebut. Sebagai contoh pilot pesawat terbang membutuhkan kemampuan visualisasi spasial yang kuat, eksekutif senior membutuhkan kemampuan verbal dan sebagainya.

Pembelajaran adalah setiap perubahan prilaku yang relative permanen, terjadi sebagai hasil dari pengalaman. Pembelajaran melibatkan perubahan, dari sudut pandang organisasi, perubahan dapat berarti baik atau buruk. Beberapa bentuk pengalaman diperlukan untuk pembelajaran. Pengalaman bisa didapat secara langsung melalui pengamatan atau latihan, atau bisa didapatkan secara tidak langsung seperti melalui membaca.

Tiga teori yang menjelaskan proses dimana kita memperoleh prilaku, teori-teori tersebut adalah

  1. Pengondisian klasik

Pengondisian klasik adalah jenis pengondisian dimana individu merespon beberapa stimulus yang tidak biasa dan menghasilkan respon baru. Pengondisian klasik adalah pasif. Sesuatu terjadi dan kita bereaksi dalam cara tertentu. Reaksi tersebut diperoleh sebagai respon terhadap kejadian tertentu yang dapat dikenali. Dengan demikian hal ini dapat menjelaskan prilaku refleksi sederhana, tetapi sebagian besar prilaku khususnya prilaku kompleks dari individu dalam organisasi adalah dihasilkan bukan didapat. Dilakukan secara sadar dan bukanlah suatu refleksi. Sebagi contoh, karyawan memilih untuk tiba dikantor tepat pada waktunya, meminta bantuan kepada atasan meraka ketika menghadapi maslah, atau bersantai ketika tidak ada karyawan lain yang melihat.

  1. Pengondisian operant

Pengondisian operant adalah jenis pengondisian dimana prilaku suka rela yang diharapkan menghasilkan penghargaan atau mencegah sebuah hukuman. Pengondisian operant menyatakan bahwa perilaku merupakan fungsi dari konsekuensi-konsekuensinya. Individu belajar berperilaku untuk mendapatkan sesuatu yang mereka inginkan atau menghindari sesuatu yang tidak mereka inginkan. Perilaku operant berarti perilaku secara sukarela atau yang dipelajari, kebalikan dari perilaku refleksi atau tidak dipelajari. Kecenderuangan untuk mengulang perilaku yang seperti ini dipengaruhi oleh ada atau tidaknya penegasan dari konsekuensi-konsekuensi yang dihasilkan oleh perilaku. Dengan demikian penegasan akan memperkuat sebuah perilaku atau meningkatkan kemungkinan perilaku tersebut diulangi.

Konsep pengondisian operant merupakan bagian dari konsep skinner mengenai paham perilaku, yang menyatakan bahwa perilaku mengikuti rangsangan dalam cara yang relative tidak terpikirkan. Dalam paham perilaku radikal menurut bentuk skinner, konsep-konsep seperti perasaan, pikiran, dan keadaan pikiran lainya ditolak sebagai penyebab perilaku. Singkatnya individu belajar untuk menegosiasikan rangsangan dan respon, tetapi pikiran sadar mereka terhadap asosiasi ini adalah tidak relevan.

  1. Pembelajaran social

Seseorang dapat juga belajar dengan mengamati apa saja yang terjadi pada individu lain dan hanya dengan diberi tahu mengenai sesuatu, seperti belajar dari pengalaman langsung. Jadi sebagai contoh banyak dari apa yang telah kita pelajari didasarkan atas pengamatan terhadap model seperti orang tua, guru, rekan sebaya dan yang lainya.pandangan bahwa kita dapat belajra melalui pengamatan maupun pengalaman langsung disebut teori pengalaman social. Individu merespons pada bagaimana mereka merasakan dan mendefinisikan konsekuensi bukan pada konsekuensi objektif itu sendiri.

Pengaruh model-model adalah sentral pada sudut pandang pembelajaran social. Empat proses untuk menentukan pengaruh sebuah model pada seorang individu:

  1. Proses perhatian

Individu belajar dari sebuah model hanya ketika mereka mengenali dan mencurahkan perhatian terhadap fitur-fitur pentingnya. Kita cederung sangat terpengaruh oleh model-model menarik, tersedia secara berulang-ulang, penting bagi kita atau mirip dengan kita menurut perkiraan kita.

  1. Proses penyimpanan

Pengaruh sebuah model akan bergantung pada seberapa baik individu mengingat tindakan-tindakan model setelah model tersebut tidak lagi tersedia.

  1. Proses reproduksi motor

Setelah seseorang melihat sebuah perilaku baru dengan mengamati model, pengamatan tersebut harus diubah menjadi tindakan. Proses ini kemudian menunjukkan bahwa individu itu dapat melakukan aktivitas yang dicontohkan oleh model tersebut.

  1. Proses penegasan

Individu akan termotivasi untuk menampilkan perilaku yang dicontohkan jika tersedia insentif positif atau pengahargaan. Perilaku yang ditegaskan secara positif akan mendapatkan lebih banyak perhatian, dipelajari dengan lebih baik, dan dilakukan lebih sering.

Ada beberapa teori yang dapat dikemukakan berkaitan dengan pembentukan kelompok, yaitu:

a. Teori Kedekatan

Teori ini adalah teori yang sangat dasar dan menjelaskan tentang adanya afiliasi diantara orang-orang tertentu. Seseorang berhubungan dengan orang lain disebabkan adanya kedekatan.

b. Teori Interaksi

Teori ini menjelaskan pembentukan kelompok berdasarkan aktivitas-aktivitas, interaksi-interaksi, sentiment-sentimen (perasaan dan emosi). Dan semuanya saling berhubungan.

– Semakin banyak aktifitas seseorang dilakukan dengan orang lain, semakin beraneka interaksi-interaksinya dan semaki kuat tumbuhnya sentiment-sentimen mereka

– Semakin banyak interaksi-interaksi diantara orang-orang, maka semakin banyak kemungkinan aktivitas-aktivitas dan sentiment yang ditularkan pada orang lain.

– Semakin banyak aktivitas-aktivitas dan sentiment yang ditularkan pada orang lain, dan semakin banyak sentiment seseorang dipahami olleh orang lain, maka semakin banyak kemungkinan ditularkan aktivitas dan interaksi-interaskri.

c. Teori Keseimbangan

Teori menyatakan bahwa seseorang tertarik pada yang lain adalah didasarkan atas kesamaan sikap didalam menanggapi sesuatu tujuan

d. Teori Pertukaran

Teori ini ada kesamaan fungsinya dengan teori motivasi dalam bekerja. Teori kedekatan, teori interaksi, dan teori keseimbangan memeinkan peranan dalam teori ini.

Sebuah kelompok adalah sebagai dua individu atau lebih, yang berinteraksi dan saling bergantung, bergabung untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Kelompok dapat berupa kelompok formal ataupun informal. Kelompok formal adalah kelompok-kelompok yang didefinisikan oleh struktur organisasi, dengan penentuan tugas berdasarkan penunjukan penugasan kerja. Sebaliknya kelompok informal adalah perhimpunan yang tidak terstruktur secara formal maupun secara organisasi. Kelompok-kelompok ini adlah formasi-formasi alami dalam lingkungan kerja yang timbul sebagai respons terhadap kebutuhan akan interaksi social.

Lebih spesifik lagi, sub-sub klasifikasi kelompok seperti kelompok komando, tugas, kepentingan dan persahabatan. Kelompok-kelompok komando dan tugas ditentukan oleh organisasi formal, sedangkan kelompok-kelompok kepentingan dan persahabatan merupakan perhimpunan informal.

Kelompok komando ditentukan oleh grafik organisasi. Kelompok tersebut terdiri atas individu-individu yang melapor secara langsung kepada seoarang manajer. Kelompok tugas juga ditentukan secara organisasional, mewakili meraka yang bekerja bersama-sama untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Tetapi batasan-batasan sebuah kelompok tugas tidak terbatas secara hierarki pada atasannya langsung. Kelompok tersebut dapat memotong hubungan komando. Misalnya jika seorang mahasiswa perguruan tinggi dituduh atas sebuah kejahatan kampus, maka akan dibutuhkan komunikasi dan koordinasi antara dekan urusan akademis, dekan kemahasiswaan, panitera, pimpinan keamanan, dan penasehat mahasiswa. Formasi seperti ini akan membentuk sebuah kolempok tugas. Perlu diketahui bahwa semua kelompok komando juga merupakan kelompok tugas, tetapi karena kelompok tugas dapat memotong melintasi organisasi, hal sebaliknya belum tentu benar.

Kelompok kepentingan adalah mereka yang bekerja bersama untuk mencapai suatu tujuan dengan kepentingan masing-masing. Kelompok persahabatan adalah mereka yang berkumpul bersama karena mereka memiliki satu atau lebih persamaan karakteristik. Kelompok informal memberikan pelayanan yang sangat penting dengan cara memuaskan kebutuhan-kebutuhan social anggotanya. Oleh karena interaksi yang ditimbulkan oleh kedekatan tempat kerja atau interaksi tugas. Kita harus tahu bahwa jenis-jenis interaksi diantara individu ini, meskipun informal, dapat mempengaruhi perilaku dan kinerja mereka secara mendalam.

Berbagai teori organisasi diantaranya:
1. Teori Klasik

Mengembangkan prinsip atau model universal yang dapat digunakan pada semua keadaan. Cara pandang ini berlandaskan pada penelitian dan percobaan yang kemudian disusun dalam berbagai asas organisasi. Ada sebelas macam asas organisasi diantaranya
a. Asas pertama yaitu, perumusan tujuan yang jelas berarti kebutuhan manusia baik jasmani maupun rohani yang ingin dicapai dalam organisasi benar-benar jelas sehinga memudahkan penentuan haluan organisasi, bentuk organisasi, aktifitas yang akan dilakukan dan penentuan jumlah pejabat.
b. Asas kedua yaitu, departemenisasi, merupakan pembentukan satuan–satuan organisasi yang akan diserahi beban kerja tertentu
c. Asas ketiga adalah pembagian kerja yaitu rincian serta pengelompokan aktifitas yang erat hubungannya satu sama lain untuk dilakukan oleh satuan organisasi tertentu.
d. Asas keempat adalah koordinasi yaitu adanya keselarasan aktifitas antara satuan atau keselarasan tugas antara pejabat.
e. Asas kelima adalah pelimpahan wewenang yaitu penyerahan sebagian hak untuk mengambil tindakan yang diperlukan agar tugas dan tangung jawab dapat dilaksanakan dengan baik dari pejabat yang satu kepada pejabat yang lain.
f. Asas keenam adalah rentangan kontrol yaitu jumlah terbanyak bawahan langsung yang dapat dipimpin dengan baik oleh seorang atasan tertentu.
g. Asas ketujuh adalah jenjang organisasi, yaitu tingkat-tingkat satuan organisasi yang disusun menurut kedudukannya dari atas kebawah dalam fungsi tertentu.
h. Asas kedelapan adalah kesatuan perintah yaitu tiap-tiap pejabat hendaknya hanya dapat diperintah dan bertangung jawab kepada seorang atasan tertentu.
i. Asas kesembilan adalah fleksibilitas yaitu kemudahan untuk menyesuaikan diri (organisasi) dengan perubahan-perubahan yang terjadi tanpa mengangu kelancaran aktifitas yang sedang berjalan.
j. Asas kesepuluh adalah berkelangsungan yaitu tiap-tiap satuan organosasi harus memiliki sarana-sarana tertentu agar dapat melakukan aktifitas operasinya secara terus menerus.
k. Asas kesebelas adaalah keseimbangan, yaitu setiap satuan organisasi harus diletakkan pada struktur organisasi sesuai dengan peranannya.
2. Teori hubungan antara manusia

Memandang organisasi sebagai sesuatu yang terdiri atas tugas-tugas maupun manusia. Cara pandang ini dinamakan pula cara pandang perilaku, cara padang perilaku antara pribadi, atau cara pandang manusiawi. Teori ini memandang bahwa organisasi terdiri atas tugas-tugas dan manusia yang harus dipertahankan pada suatu tingkat keseimbangan. Perhatian yang hanya ditujukan kepada pekerjaan atau kepada kebutuhan orang yang melaksanakan tugas tersebut akan mengurangi optimalisasi system.
3. Teori struktural atau konflik
Teori ini memandang organisasi sebagai sebuah faktor penting yang mempengaruhi sistem keputusan.
4. Teori pembuatan keputusan
Teori ini menyatakan bahwa para pejabat dalam organisasi bukanlah peralatan mekanis, dan proses pemecahan masalah manusia dan mekanisme penbuatan keputusan merupakan pokok perilaku organisasi. Berhasil tidaknya organisasi mencapai tujuan yang telah ditentukan tergantung dari akibat berbagai keputusan yang dibuat oleh para manejer baik tingkat puncak, menengah, maupun tingkat bawah. Proses pembuatan keputusan melalui empat tahap, yaitu
a. Proses pembuatan keputusan dengan cara meneliti lingkungan yang memerlukan keputusan
b. Menemukan, mengembangkan dan menganalisis kemungkinan arah tindakan.
c. Memilih arah tindakan tertentu dari arternatif yang ada.
d. Menilai sesudah memilih atau menentukan keputusan.

Posted on 13 September 2012, in Prilaku Organisasi and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: